Jumat, 28 Desember 2012

Sayuran Hijau Melindungi Wanita dari Kanker Payudara

Salah satu penyakit yang paling ditakuti wanita adalah kanker payudara, karena termasuk penyakit yang mematikan dan sulit untuk diobati. Sehingga untuk mewaspadai berkembangnya penyakit tersebut pada diri Anda, bentengi tubuh dengan nutrisi karotenoid yang ampuh melawan kanker payudara.
Para ilmuwan menyatakan bahwa wanita yang memiliki tingkat tinggi karotenoid yang berbeda dalam darahnya, memiliki risiko 15 sampai 20 persen lebih rendah terkena kanker payudara dibanding wanita dengan tingkat karotenoid yang lebih rendah.
Karotenoid adalah pigmen yang bertanggung jawab terhadap warna-warna cerah tanaman. Sumber utama karotenoid termasuk wortel, yang kaya alpha-karoten, ubi jalar dan sayuran hijau, yang kaya akan beta-karoten, dan tomat yang kaya akan likopen.
Sayuran hijau juga merupakan sumber yang baik dari lutein zeaxanthin +. Jadi diet kaya karotenoid tinggi dalam buah dan sayuran dapat menawarkan banyak manfaat, termasuk kemungkinan penurunan risiko kanker payudara.
Fungsi karotenoid adalah sebagai antioksidan dan menyerap radikal bebas dari hasil metabolisme yang berlebihan. Jika terlalu banyak radikal bebas dalam darah, hal ini akan menyebabkan stres oksidatif dan stres oksidatif yang berkepanjangan dapat menyebabkan penyakit seperti kanker.
“Sehingga seseorang memerlukan persediaan antioksidan yang lebih banyak dalam tubuhnya untuk menangkal bahaya radikal bebas,” kata A. Heather Eliassen, penulis studi tersebut dan seorang asisten profesor kedokteran di Harvard Medical School, seperti dilansir thedoctorwillseeyounow, Senin (17/12/2012).
Salah satu temuan yang menarik adalah bahwa ada hubungan antara tingkat karotenoid dalam darah dengan perkembangan tumor payudara karena estrogen reseptor negatif (ER-). Eliassen menyatakan bahwa tumor payudara karena ER- yang lebih agresif akan lebih sulit diobati, tetapi karotenoid mungkin dapat membantu pengobatan.
Peneliti juga menemukan bahwa karotenoid juga efektif memberikan perlindungan terhadap wanita yang merokok. Nikotin dalam rokok dapat meningkatkan stres oksidatif, tetapi karotenoid masih mampu memberikan perlindungan terhadapnya.
Tetapi hasil penelitian juga menunjukkan bahwa efek perlindungan karotenoid lebih dapat dirasakan oleh wanita dengan indeks massa tubuh (BMI) yang lebih rendah. Kelebihan berat badan merupakan salah satu sumber stres oksidatif yang sulit untuk diatasi jika hanya mengandalkan diet karotenoid saja tanpa disertai usaha penurunan berat badan.
Peneliti merekomendasikan untuk meningkatkan konsumsi buah-buahan dan sayuran sehat atau diet karotenoid untuk melindungi diri kanker payudara. Hasil penelitian ini diterbitkan dalam Journal of National Cancer Institute.

Gemuk Mendadak Tingkatkan Resiko Diabetes

Ketika Anda telah berhasil menurunkan beberapa badan hingga beberapa kilogram, jagalah berat badan Anda agar tidak kembali naik. Peningkatan kembali berat badan setelah sukses melakukan diet tidak hanya menggagalkan usah keras Anda, tetapi dapat membahayakan jantung serta rentan terhadap diabetes.
Kebanyakan orang hanya gigih dalam usaha penurunan berat badannya saja, tetapi melupakan pemeliharaan berat badan. Meningkatnya berat badan kembali setelah Anda mencapai berat badan yang diinginkan, akan meningkatkan risiko diabetes dan penyakit jantung.
Peneliti melakukan studi terhadap 100 wanita pasca-menopause yang mengalami obesitas. Semua peserta terlibat dalam program penurunan berat badan yang dijalani selama 5 bulan dan rata-rata dapat menurunkan berat badan hingga 12 kg. Setelah itu, para peneliti terus memantau peserta selama setahun.
Setahun kemudian, sekitar 2/3 dari peserta mengalami peningkatan berat badan kembali setidaknya sebanyak 4 kg. Rata-rata, para peserta mendapatkan berat badannya kembali hingga 70 persen dari berat badan sebelumnya.
“Masalah muncul ketika berat badan peserta kembali naik, yaitu tingkat risiko diabetes dan gangguan pada jantung meningkat. Sementara itu, perempuan yang dapat mempertahankan berat badannya hingga setahun kemudian, tercatat memiliki risiko diabetes dan penyakit jantung yang lebih rendah,” kata Daniel Beavers, pemimpin utama penelitian tersebut.
Studi ini juga menemukan bahwa meski seseorang mendapatkan berat badannya kembali sedikitnya 2,5 kg saja, dirinya telah mengembangkan risiko gangguan kardiometabolik, terutama bagi wanita menopause.
Penelitian ini menyoroti betapa pentingnya manjaga berat badan agar tetap ideal tanpa melakukan diet penurunan berat badan yang cukup ketat. Seseorang harus mulai mengadopsi hidup sehat sejak dini agar dirinya tidak perlu bersusah payah menurunkan berat badan di usia tua.
Peneliti menyarankan untuk memulai gaya hidup sehat secara perlahan-lahan, seperti menghindari konsumsi soda, memperbanyak konsumsi sayuran dan menyimpan catatan makanan sehari-hari agar Anda dapat mengontrol seberapa banyak kalori yang Anda makan per harinya.
Studi ini dipublikasikan dalam Journal of Gerontology: Biomedical Sciences, seperti dikutip dari Medical Daily, Selasa (18/12/2012).

Penyakit Celiac Hambat Kehamilan

Tenggarong - Pasangan yang mengalami masalah kesuburan dan kesulitan untuk mendapatkan kehamilan, mungkin perlu untuk melakukan pemeriksaan terhadap penyakit celiac. Gangguan pencernaan tersebut telah dikaitkan dengan penurunan kesuburan.Infertilitas dapat disebabkan oleh beberapa masalah hormonal atau anatomis pada pasangan, tetapi dalam 20 persen kasus infertilitas, tidak ada penyebab yang dapat diidentifikasi. Studi terbaru menunjukkan bahwa wanita yang memiliki masalah dengan kesuburan, mungkin memiliki penyakit celiac, yang bisa menghambat upayanya untuk hamil.
Penyakit celiac adalah gangguan pencernaan yang dapat merusak usus kecil dan mengganggu penyerapan nutrisi dari makanan. Sebuah studi baru yang dilakukan oleh Celiac Disease Center di Columbia University menemukan bahwa 6% dari wanita yang bermasalah dengan kesuburan, ternyata memiliki penyakit celiac.
Wanita-wanita tersebut berhasil mendapatkan kehamilan setelah menjalani pengobatan celiac. Orang dengan penyakit celiac tidak dapat mentoleransi gluten, yaitu suatu protein yang terkandung dalam gandum, rye dan barley.
Cobalah untuk beralih ke diet bebas gluten untuk mengelola penyakit celiac dan mengurangi gejala, seperti diare, kram, kembung, serta masalah non-gastrointestinal seperti perawakan pendek, anemia dan masalah hati. Beberapa orang mungkin tidak mengembangkan gejala tertentu atau gejalanya baru muncul setelah penyakit berkembang.
Antibodi terhadap jaringan transglutaminase (TTG) dapat berdampak negatif terhadap perkembangan plasenta. Enzim ini, ditemukan di seluruh tubuh dan berperan dalam membantu pembentukkan janin. TTG yang abnormal karena penyakit celiac, secara langsung dapat mempengaruhi kemampuan wanita untuk mempertahankan kehamilan.
Organisasi kesehatan seperti American Society for Reproductive Medicine segera mempertimbangkan untuk menerapkan pedoman skrining nasional. Sehingga wanita mengetahui bahwa dirinya memiliki penyakit celiac yang perlu untuk segera disembuhkan jika menginginkan kehamilan.
Seperti dilansir sheknows, Selasa (18/12/2012), wanita dengan penyakit celiac harus mengubah diet dengan makan makanan alami yang bebas gluten termasuk beras, kedelai, kentang, kacang-kacangan dan biji-bijian.

Kuman Norovirus Tidak Hilang Walau Piring Sudah Dicuci Bersih

Musim liburan dan berkumpul bersama keluarga bisa menjadi mimpi buruk jika terjadi keracunan makanan. Sebagian besar penyebabnya adalah kontaminasi kuman dalam makanan. Sayangnya, ada beberapa jenis kuman yang tak hilang walau piring sudah dicuci bersih.
Para peneliti dari Ohio State University menemukan kuman penyebab keracunan makanan yang bernama norovirus tidak dapat dibasmi hanya dengan mencuci piring atau wadah makanan. Virus ini ternyata lebih bandel ketimbang bakteri-bakteri atau kebanyakan kuman lainnya.
Dalam laporan yang dimuat jurnal PLoS One, peneliti melakukan pengujian pada piring keramik, gelas minum dan garpu stainless steel. Ketiga perkakas tersebut lalu diolesi dengan krim keju dan susu rendah lemak, bahan makanan yang memang agak sulit dibersihkan.
Alat tersebut ada yang dicuci dengan tangan dan ada yang menggunakan mesin cuci piring, menggunakan air keran, natrium hipoklorit dan surfaktan, sama seperti bahan yang digunakan di restoran. Pada banyak kasus, kontaminasi norovirus, Escherichia coli K-12 dan innocua Listeria adalah yang paling sering memicu keracunan makanan.
Ternyata, bakteri E. coli dan listeria dapat dibersihkan, tetapi norovirus tidak. Kuman norovirus hanya berkurang sedikit jumlahnya setelah dicuci. Walau mesin pencuci piring dapat lebih ampuh membersihkan, ternyata kemampuannya masih belum cukup mengusir norovirus.
Para peneliti lantas menyimpulkan bahwa norovirus lebih tahan terhadap pencucian dibandingkan bakteri E. coli dan listeria. Seperti dikutip dari Medical Daily, Rabu (26/12/2012), penelitian ini sebenarnya dilakukan untuk menanggapi kasus keracunan massal yang terjadi di kota Casper, Wyoming di AS.
Dalam waktu seminggu terakhir, telah dilaporkan 167 kasus penyakit gastrointestinal akibat keracunan makanan. Hasil investigasi menunjukkan bahwa penyakit ini berasal dari restoran Golden Corral, restoran prasmanan yang baru dibuka 1 bulan sebelum wabah menyebar.
Salah satu korban keracunan yang sempat makan di sana bersama keluarganya mengatakan bahwa ia melihat hidangan disajikan di atas piring kotor, namun mereka tetap menyantap makanannya. Seorang karyawan memberitahunya bahwa mesin cuci piring sedang tidak berfungsi.
Namun inspektur kesehatan yang mengunjungi restoran setelah terjadinya wabah keracunan mengaku tidak melihat ada piring kotor dan menemukan mesin cuci piring masih bekerja dengan baik.