Rabu, 24 September 2014

700 Bakteri Baik Ditemukan Dalam ASI

Apakah Anda tahu? Air Susu Ibu (ASI) ternyata menjadi tempat pertama bagi seorang bayi untuk melakukan kontak dengan organisme yang sangat bermanfaat bagi tubuhnya.
700 Bakteri Baik Ditemukan Hidup dalam ASI 700 Bakteri Baik Ditemukan Hidup dalam ASI
Menurut temuan para ilmuwan, ASI mengandung 700 jenis bakteri baik lebih banyak dari yang semula diperkirakan. Peran pasti bakteri tersebut memang belum jelas, tetapi keragaman mikroba berdampak positif karena akan membantu bayi mencerna susu hingga meningkatkan kekebalan tubuhnya.
Mikroba dalam ASI telah dipetakan oleh para peneliti menggunakan teknik peruntunan DNA yang dikenal dengan pyrosequencing. Lewat teknik ini para ilmuwan bisa mengenali berbagai jenis bakteri dengan melihat variasi DNA-nya.
Para peneliti menguji contoh kolostrum (ASI pertama yang keluar setelah melahirkan), dan contoh ASI pada bulan pertama hingga keenam pasca persalinan. Pada beberapa sampel dikenali bakteri yang biasa terdapat di mulut seperti Veillonella, Leptortrichia, dan Prevotella.
“Kami belum bisa menentukan apakah bakteri ini berkoloni di mulut bayi atau bakteri oral dari bayi masuk ke ASI sehingga mengubah komposisinya,” kata Maria Carmen Collado, peneliti Spanyol yang melakukan riset ini, seperti dikutip dari National Geographic Indonesia.
Penemuan lain yang dihasilkan adalah bahwa ASI juga dipengaruhi oleh berat badan ibu dan cara persalinan. Ibu yang melahirkan lewat operasi caesar memiliki keragaman bakteri lebih sedikit dibanding yang melahirkan secara normal.
“Jika bakteri yang berada dalam ASI ternyata sangat penting untuk kekebalan tubuh, maka penambahannya dalam susu formula mungkin akan menurunkan risiko alergi, asma, dan penyakit autoimun,” kata peneliti.
Sementara itu, pengembangan penelitian selanjutnya akan berfokus untuk menemukan strategi nutrisi bagi bayi yang tidak bisa mendapat ASI. Karena sampai saat ini belum ada susu formula yang bisa menyamai ASI.

Waluh Bantu Sehatkan Penderita Diabetes

Menurut penelitian terbaru, labu merah atau yang dikenal dengan sebutan waluh, memang memiliki rasa manis, namun ternyata mampu menyehatkan penderita diabetes.
Waluh Bantu Sehatkan Penderita Diabetes Lho Waluh Bantu Sehatkan Penderita Diabetes, Lho!
Sayuran dari genus Cucurbita moschata ini, memiliki indeks glikemik (GI) yang sangat rendah. Nah, makanan yang memiliki indeks glikemik tinggi justru akan meningkatkan kadar gula dalam darah. Oleh sebab itu, waluh sangat baik untuk penderita diabetes, menurut laporan Boldsky.com.
Selain itu, waluh juga mampu memperbaiki fungsi pankreas. Sayuran ini mengembalikan fungsi pankreas dengan memperbaiki jaringan yang dirusak oleh diabetes.
Bila pankreas tidak berfungsi dengan baik, maka pankreas akan mengalami kesulitan untuk memproduksi insulin, padahal insulin sangat dibutuhkan tubuh untuk memecah glukosa dalam tubuh.
Cara mengolah waluh untuk penderita diabetes juga harus diperhatikan. Sayuran itu bisa dimasak menggunakan bumbu seperti kayu manis dan biji pala. Dua bumbu dapur ini termasuk bumbu yang ramah terhadap penderita diabetes.
Selain itu, jangan tambahkan gula ke dalam bahan olahan labu. Menambahkan gula sama saja dengan menghancurkan fungsi utama waluh untuk menyehatkan penderita diabetes.
Terakhir, jangan olah waluh dengan cara digoreng. Minyak goreng hanya akan menambahkan kalori dan merusak nutrisi yang terkandung di dalam waluh. Cobalah untuk mengolah waluh dengan cara dipanggang, dikukus, atau direbus.

Awas, Soft Drink Tingkatkan Resiko Kanker Prostat

Pria yang doyan konsumsi minuman bersoda tidak hanya merusak gigi mereka, tetapi juga bisa berisiko terkena kanker prostat agresif.
sofdrink Awas, Soft Drink Tingkatkan Risiko Kanker Prostat
Sebuah studi di Swedia menemukan bahwa satu minuman ringan sehari bisa meningkatkan risiko mengembangkan bentuk-bentuk yang lebih serius dari kanker prostat hingga 40 persen, demikian laporan Dailymail.co.uk.
Para ahli di Lund University juga menemukan bahwa mereka yang memiliki pola makan karbohidrat berat dalam nasi dan pasta bisa meningkatkan risiko terkena bentuk ringan dari kanker prostat, hingga 31 persen.
Dan, banyak makan sereal manis saat sarapan juga mengangkat risiko bentuk yang lebih ringan dari kanker prostat hingga 38 persen
Kanker prostat adalah kanker kedua yang paling umum diderita pada pria setelah penyakit paru-paru. Studi ini meneliti lebih dari 8.000 pria berusia antara 45-73 tahun selama rata-rata 15 tahun.

Jangan Merasa Bebas Diabetes Sebelum Tahu Gejalanya

Diabetes bisa menyerang orang dari segala usia. Bahkan dengan gejala-gejala yang mungkin tidak pernah disadari penderitanya.
Jangan Merasa Bebas dari Diabetes Sebelum Mengetahui Gejalanya Jangan Merasa Bebas Diabetes Sebelum Tahu Gejalanya
Menurut sebuah survey, sekitar 1 dari 3 orang dengan diabetes tipe 2 tidak tahu mereka mengalami penyakit tersebut. Diabetes dapat terjadi akibat tingginya kadar gula darah.
Kelebihan gula darah dalam tubuh tidak hanya mengakibatkan penderita mengalami diabetes, tetapi juga meningkatkan risiko penyakit jantung, kehilangan penglihatan, kerusakan saraf dan organ, dan kondisi serius lainnya.
Berikut beberapa gejala diabetes yang jarang diperhatikan oleh para penderita, seperti dilansir Menshealth:
Sering Haus
Salah satu gejala yang paling umum saat seseorang terkena diabetes adalah peningkatan rasa haus. Biasanya rasa haus tersebut diiringi dengan mulut kering, nafsu makan meningkat, sering buang air kecil tengah malam, dan penurunan berat badan secara drastis.
Sakit Kepala
Ketika gula darah mulai meningkat hingga di atas batas normal, gejala-gejala tambahan mulai terjadi, seperti sakit kepala, pandangan mulai kabur, dan mudah lelah.
Infeksi
Pada beberapa kasus, gejala diabetes tidak dapat terdeteksi sampai di saat penderita mengalami beberapa gejala seperti, luka di permukaan kulit yang tidak kunjung sembuh, infeksi saluran kemih, gatal-gatal pada kulit terutama di daerah selangkangan.
Disfungsi Seksual
Gangguan seksual adalah gejala paling umum pada penderita diabetes. Diabetes dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah dan ujung saraf pada organ seksual, sehingga membuat penderita sulit ereksi dan orgasme.
Diperkirakan antara 35% hingga 70% pria dengan diabetes mengalami impotensi. Dan sekitar 1 dari 3 wanita dengan diabetes mengalami beberapa masalah dalam kehidupan seksual mereka.
Gaya Hidup ‘tak Sehat
Gaya hidup tak sehat juga berperan besar meningkatkan risiko diabetes. Gaya hidup tersebut meliputi, jarang berolahraga, merokok, mengonsumsi makanan tinggi lemak dan berkolesterol tinggi.
Faktor Risiko yang Tidak Dapat Dicegah
Ada pula beberapa faktor risiko yang bersifat genetik yang dapat meningkatkan risiko diabetes, diantaranya:
  • Ras tertentu. Ras-ras tertentu seperti Hispanik, Afrika-Amerika, penduduk asli Amerika, dan Asia memiliki risiko lebih tinggi dari ras lainnya di dunia.
  • Riwayat Keluarga. memiliki orang tua atau silsilah kelaurga yang pernah mengalami diabetes juga meningkatkan risiko diabetes.
  • Usia. Diabetes juga berisiko tinggi bagi orang-orang berusia di atas 44 tahun.
Gestational Diabetes
Adalah kondisi gula darah yang tinggi yang terjadi pada masa kehamilan, dan terjadi pada orang yang tidak menderita diabetes. Jika kondisi ini berlanjut di kemudian hari maka, wanita tersebut akan berisiko diabetes. Memiliki riwayat sindrom ovarium polikistik juga dapat menyebabkan resistensi insulin yang dapat memicu diabetes.

Sirup Jagung Aman untuk Dikonsumsi?

Hampir dalam setiap produk makanan, gula tambahan sering digunakan sebagai pemanis untuk produk makanan yang bersangkutan. High Fructose Corn Syrup (HFCS) atau sirup jagung fruktosa tinggi adalah salah satu contoh gula tambahan yang sering terdapat pada label nutrisi kemasan makanan.
Di Amerika high fructose corn syrup sudah digunakan sejak akhir tahun 70’ an dan 80’ an. Produk ini digunakan secara luas dalam kemasan makanan seperti minuman bersoda, sereal, biskuit dan berbagai makanan olahan lainnya.
High fructose corn syrup merupakan campuran dari fruktosa dan glukosa cair dengan kapasitas penggunaan yang lebih stabil dan lebih murah daripada gula tebu, sehingga banyak produsen makanan yang menggunakan high fructose corn syrup sebagai gula tambahan dalam produk mereka.
Dalam beberapa tahun terakhir pemerintah Amerika Serikat menganggap bahwa sirup jagung fruktosa tinggi merupakan penyebab dari permasalahan kesehatan yang mengganggu di AS seperti kasus obesitas pada anak-anak dan dewasa, diabetes, dan berbagai masalah kesehatan lain.
Penelitian yang dilakukan University of California dan Oxford University menunjukkan bahwa penggunaan gula jagung (HFCS) sebagai bahan pemanis makanan olahan dan softdrink berpengaruh para kenaikan jumlah kasus penyakit diabetes tipe 2 seperti yang dimuat dalam dimuat Jurnal Global Public Health.
Setelah dilakukan penelitian di 42 negara, para peneliti menyimpulkan bahwa peningkatan kasus diabetes rata-rata 20% lebih tinggi pada negara yang menggunakan HFCS sebagai pemanis, dibandingkan negara-negara yang tidak menggunakan HFCS.
Michael I. Goran, MD , salah satu peneliti dari Institut Penelitian Diabetes dan Obesitas di Amerika menyatakan, “HFCS merupakan salah satu jenis gula yang dapat menyebabkan masalah kesehatan dalam skala global. Hasil dari penelitian ini menambah referensi ilmiah yang mengindikasikan konsumsi HFCS dapat berakibat buruk bagi kesehatan, dan lebih berbahaya daripada gula alami.”
Kandungan fruktosa tinggi yang terkandung dalam HFCS membuat tubuh rentan sekali terhadap penimbunan lemak. Ini terjadi karena perbedaan tubuh dalam mencerna fruktosa dan glukosa, sehingga dapat meningkatkan risiko obesitas.
Goran memprediksi jika pada 2030 nanti jumlah orang di dunia mengonsumsi HFSC tidak mengalami penurunan, maka diperkirakan sebanyak 8% penduduk dunia akan berisiko meninggal akibat penyakit diabetes tipe 2.
Oleh karena itu, agar terhindar dari obesitas dan penyakit diabetes, sebaiknya kurangi segala bentuk penggunaan pemanis buatan secara berlebihan yang ada dalam minuman ataupun makanan ringan.

Mengenal Disleksia Sejak Dini


Memiliki anak yang mahir membaca, menulis, mengeja, dan berhitung saat bersekolah tentu menjadi harapan setiap orang tua. Kenyataannya, beberapa anak terbata-bata saat membaca atau memakan waktu lama kala mengeja kata. Sementara anak-anak lain mampu membaca atau mengeja dengan lancar. Jika mendapati anak dengan kondisi itu, orang tua perlu curigai. Bisa jadi sang anak menderita disleksia.

Disleksia merupakan kondisi ketidakmapuan belajar pada anak. Tandanya, anak kesulitan mengenali kata dengan tepat, tidak akurat dalam mengeja dan mengodekan simbol. Juga sulit mengingat huruf atau angka, susah menulis, mengalami keluhan gangguan konsentrasi, serta mudah lupa.

Pengajar psikolinguistik di Departemen Linguistik Universitas Indonesia, Harwintha Yuhria Anjarningsih mengatakan, gangguan kesulitan belajar ini bukan karena anak kurang kecerdasan atau kesalahan dalam pengajaran. “Melainkan karena masalah defisit fonologis, yakni ketidakmampuan anak memahami pemetaan antara grafem atau huruf, dan fonem atau bunyi,” ujarnya kepada Plasadana.com untuk Yahoo Indonesia, Sabtu, 6 September 2014.

Contohnya, penyandang disleksia sulit membedakan antara ‘paku’ dengan ‘palu’. Atau keliru memahami kata-kata yang mempunyai bunyi hampir sama, misalnya ‘lima puluh’ dengan ‘lima belas’. Kesulitan ini bukan disebabkan masalah pendengaran, tetapi berkaitan dengan proses pengolahan input di dalam otak.

Peraih gelar doktor linguistik dari Rijksuiversiteit Groningen, Belanda itu mengatakan, mengenali disleksia sejak dini sangat penting bagi orang tua dan guru. Dengan begitu, si penderita mampu keluar dari kesulitan dan bisa bersekolah dengan baik seperti anak-anak seusianya. “Sayang, Indonesia belum mempunyai sistem resmi untuk mengenali dan membantu penderita disleksia,” kata dia.

Tapi sebenarnya banyak cara untuk membantu pengidap disleksia. Para ahli percaya penerapan metode pengajaran kreatif menggunakan alat peraga dan perangkat teknologi bisa membantu anak mengejar ketertinggalan. Juga intervensi khusus melalui pendekatan konseling pada anak.

Disleksia juga bisa teratasi dengan berusaha keras dan latihan secara terus-menerus sesuai minat si anak. “Atau dengan melatih indera peraba dan mengeskplorasi bidang yang dia kuasai,” kata dia. “Pun mengintervensi anak dengan berlatih menulis di atas laptop.”

Ketika di rumah, Harwintha menyarankan, orang tua dan orang terdekat selalu mendukung anak disleksia dalam belajar. Juga menerapkan teknik pengajaran seperti mengenal huruf, melukis, mewarnai, dan menyusun kepingan puzzle. Ia yakin, cara ini mampu memotivasi dan menumbuhkan kreativitas anak.

Harwintha juga mengingatkan bila kepandaian tidak hanya bisa terukur dengan kemahiran membaca, menulis, dan berhitung. Sebab setiap anak memiliki kelebihan lain yang bisa tereksplorasi. “Anak-anak disleksia biasanya unggul di bidang lain seperti melukis, bermusik, atau berolahraga. Potensi inilah yang seharusnya digali orang tua dan guru,” ujarnya.

Selasa, 23 September 2014

Fungsi Bedong pada Bayi

Bedong (Swaddling) adalah cara membungkus bayi dengan selimut yang bertujuan untuk memberikan rasa hangat dan nyaman. Sebenarnya, membedong atau swaddling sudah dilakukan sejak lama oleh orangtua-orangtua kita dulu. Di banyak daerah di kawasan asia, membedong bayi baru lahir merupakan tradisi turun temurun, bahkan diselimuti hal-hal mistis seperti untuk melindungi bayi dari gangguan roh jahat. Saat ini, dunia kedokteran pun sudah membuktikan manfaat bedong bagi bayi.
Isu tersebut bukanlah sekedar isapan jempol. Ada banyak mitos seputar bedong yang kemudian menggiring para orangtua hingga membuat kesalahan-kesalahan fatal dalam proses membedong. Salah satu yang paling sering didengar adalah bahwa membedong penting untuk meluruskan kaki bayi, sehingga saat ia besar nanti kakinya tidak bengkok. Padahal, kaki bengkok pada bayi baru lahir adalah wajar. Mengingat selama di dalam rahim, ia seringkali berada pada posisi meringkuk, terutama di bulan-bulan terakhir ketika ruang di dalam rahim tak lagi luas bagi tubuhnya yang kian membesar. Kaki yang bengkok ini perlahan-lahan akan lurus dengan sendirinya seiring ia bertambah dewasa.
Mitos tersebut akhirnya membuat bayi-bayi dibedong dengan sangat ketat hingga tak bisa bergerak. Padahal bedong yang terlalu ketat meningkatkan resiko SIDS atau Sudden Infant Death Sindrom pada bayi. Karena bedong yang terlalu ketat membuat proses bernapas bayi terganggu. Selain itu, perkembangan motorik bayi juga bisa terhambat mengingat ia terikat hingga tidak dapat bergerak. Membedong dengan memaksa kaki bayi lurus juga beresiko bayi menderita hip dysplasia atau keadaan di mana formasi soket panggul bayi tidak normal.
Namun, selama bedong bayi tidak mengikatnya dengan ketat, melainkan hanya membungkusnya agar hangat, bedong memiliki banyak manfaat.
Selain pelukan, bedong adalah ‘replika’ yang paling mampu memberikan suasana mirip dengan saat ia masih di dalam rahim ibu. Di bulan pertama kehadirannya di dunia, bayi masih butuh waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya, maka tak heran kalau bayi cenderung rewel. Dengan bedong, bayi mendapatkan perasaan hangat, terlindungi dan terdekap layaknya di dalam rahim ibu. Bedong juga membantu bayi agar tidak terganggu dengan startle/moro reflex nya sendiri (reflek menghentakkan seluruh badan seperti sedang kaget). Dengan bedong, bayi juga tidak dapat mencakar mukanya, sesuatu yang sering kali dilakukan bayi baru lahir karena belum mampu mengendalikan anggota tubuhnya. Karena itu bedong membantu bayi lebih tenang, lebih mudah tertidur, dan tidurnya pun menjadi lebih nyenyak.
Tetapi perlu diingat, tidak semua bayi senang dibedong. Jika bayi Anda malah rewel ketika dibedong, jangan dipaksakan. Bedong bertujuan untuk memberi kenyamanan, jika bayi tidak merasa nyaman, maka bedong menjadi tidak perlu. Saat cuaca panas juga sangat tidak disarankan untuk membedong bayi. Keadaan overheat bagi bayi bisa mengganggu sistem pernapasannya.
Tak selamanya pula bayi butuh dibedong. Biasanya para orangtua berhenti membedong bayi di usia 1-2 bulan. Pada usia tersebut, bayi mulai banyak bergerak, dan bedong bisa menggangu gerakannya. Beberapa bayi juga mulai berguling ke samping di usia 2 bulan. Berguling dalam posisi masih dibedong akan sangat berbahaya bagi bayi.
Bayi yang sudah tidak mengalami startle/moro reflex juga sudah tak perlu dibedong. Itu menandakan bayi sudah mulai beradaptasi dengan lingkungan barunya. Penelitian juga menyebutkan bahwa membedong bayi di usia dua bulan ke atas tidak memberikan manfaat signifikan untuk meredakan tangisnya.
Tetapi, di sisi lain, ada beberapa bayi yang justru menjadi kecanduan bedong dan sulit tidur tanpa dibedong. Seiring usianya bertambah besar, longgarkan bedongnya, hingga perlahan-lahan benar-benar longgar dan bisa berhenti digunakan tanpa ia sadari.

Sumber : http://mybabybtw.com